|
Nama
|
K. H. Zaenal Mustofa
|
|
Nama Kecil
|
Hudaeni
|
|
Lahir
|
|
|
Meninggal
|
|
|
Pekerjaan
|
Pengelola Pesantren
|
Sejak tahun 1940, KH. Zaenal
Mustofa secara terang-terangan mengadakan kegiatan yang
membangkitkan semangat kebangsaan dan sikap perlawanan terhadap pendudukan
penjajah. Ia selalu menyerang kebijakan politik kolonial Belanda yang
kerap disampaikannya dalam ceramah dan khutbah-khutbahnya. Atas perbuatannya
ini, ia selalu mendapat peringatan, dan bahkan, tak jarang diturunkan paksa
dari mimbar oleh kiai yang pro Belanda.
Setelah Perang Dunia II, tepatnya pada 17 November
1941, KH. Zaenal Mustofa bersama KH. Ruhiat (dari
Pesantren Cipasung), Haji Syirod, dan Hambali Syafei ditangkap Belanda dengan
tuduhan telah menghasut rakyat untuk memberontak terhadap pemerintah Hindia
Belanda. Mereka ditahan di Penjara Tasikmalaya dan
sehari kemudian dipindahkan ke penjara Sukamiskin Bandung,
dan baru bebas 10 Januari 1942.
Kendati
sudah pernah ditahan, aktivitas perlawanannya terhadap penjajah tidak surut.
Akhir Februari 1942, KH. Zaenal
Mustofa bersama Kiai Rukhiyat kembali
ditangkap dan dimasukkan ke penjara Ciamis.
Kedua ulama ini menghadapi tuduhan yang sama dengan penangkapannya yang
pertama. Hingga pada waktu Belanda menyerah kepadaJepang,
ia masih mendekam di penjara.
Pada tanggal 8 Maret 1942 kekuasaan Hindia Belanda berakhir dan Indonesia diduduki
Pemerintah Militer Jepang. Oleh penjajah yang baru ini, KH. Zaenal
Mustofa dibebaskan dari penjara, dengan harapan ia akan mau
membantu Jepang dalam
mewujudkan ambisi fasisnya, yaitu menciptakan Lingkungan Kemakmuran Bersama
Asia Timur Raya. Akan tetapi, apa yang menjadi harapan Jepang tidak
pernah terwujud karena KH. Zaenal
Mustofa dengan tegas menolaknya. Dalam pidato singkatnya, pada
upacara penyambutan kembali di Pesantren, ia memperingatkan para pengikut dan
santrinya agar tetap percaya pada diri sendiri dan tidak mudah termakan oleh
propaganda asing. Ia malah memperingatkan bahwa fasisme Jepang itu
lebih berbahaya dari imperialisme Belanda.
Pasca perpindahan kekuasaan dari Belanda ke Jepang,
sikap dan pandangannya itu tidak pernah berubah. Bahkan, kebenciannya semakin
memuncak saja manakala menyaksikan sendiri kezaliman penjajah terhadap rakyat.
Pada masa pemerintahan Jepang ini, ia menentang pelaksanaan seikeirei, cara
memberi hormat kepada kaisar Jepang dengan menundukkan badan ke arah Tokyo. Ia
menganggap perbuatan itu bertentangan dengan ajaran Islam dan merusak tauhid
karena telah mengubah arah kiblat. Sikap ini pernah ia tunjukkan secara
terang-terangan di muka Jepang. Pada waktu itu, semua alim ulama Singaparna harus berkumpul
di alun-alun dan semua diwajibkan melakukan seikerei. Di bawah todongan
senjata, semua ulama terpaksa melakukan perintah itu, hanya KH. Zaenal
Mustofa yang tetap membangkang. Ia juga mengatakan kepada Kiai
Rukhiyat, yang hadir pada waktu itu, bahwa perbuatan tersebut termasuk musyrik.
Menurutnya, orang-orang musyrik itu tidak perlu ditakuti, apalagi diikuti
perintahnya. Sebaliknya, mereka justeru harus diperangi dan dimusnahkan dari
muka bumi. Ia yakin bahwa dalam Islam hanya Allah Swt lah yang patut ditakuti
dan dituruti; Allah Swt selalu bersama-sama orang yang mau dekat kepada-Nya dan
selalu memberikan pertolongan dan kekuatan kepada orang-orang yang mau berjuang
membela agamanya. Ia berprinsip lebih baik mati ketimbang menuruti
perintah Jepang.
Keyakinan seperti ini senantiasa ditanamkan kepada para santrinya dan
masyarakat Islam sekitarnya. Ia juga menentang dan mengecam romusha, pengerahan
tenaga rakyat untuk bekerja dengan paksa.
K.H. mempersiapkan berbagai perlawanan. Persiapan ini tercium Jepang.
Segera mereka mengirim camat Singaparna disertai 11 orang staf dan dikawal oleh
beberapa anggota polisi untuk melakukan penangkapan. Usaha ini tidak berhasil.
Mereka malah ditahan di rumah KH. Zaenal
Mustofa. Keesokan harinya, pukul 8 pagi tanggal 25 Februari 1944,
mereka dilepaskan dan hanya senjatanya yang dirampas.
Tiba-tiba, sekitar pukul 13.00, datang empat orang opsir Jepang meminta
agar KH. Zaenal Mustofa menghadap pemerintah Jepang di Tasikmalaya.
Perintah tersebut ditolak tegas sehingga terjadilah keributan. Hasilnya, tiga
opsir itu tewas dan satu orang dibiarkan hidup. Yang satu orang ini kemudian
disuruh pulang dengan membawa ultimatum. Dalam ultimatum itu, pemerintah Jepang dituntut
untuk memerdekakan Pulau Jawa terhitung mulai 25 Februari
1944. Dalam insiden itu, tercatat pula salah seorang santri bernama Nur menjadi
korban, karena terkena tembakan salah seorang opsir. Setelah kejadian tersebut,
menjelang waktu salat Asar (sekitar pukul 16.00) datang beberapa buah truk
mendekati garis depan pertahanan Sukamanah. Suara takbir
mulai terdengar, pasukan Sukamanah sangat
terkejut setelah tampak dengan jelas bahwa yang berhadapan dengan mereka adalah
bangsa sendiri. Rupanya Jepang telah mempergunakan taktik adu domba. Melihat yang
datang menyerang adalah bangsa sendiri, Zaenal Mustofa memerintahkan para
santrinya untuk tidak melakukan perlawanan sebelum musuh masuk jarak
perkelahian. Setelah musuh mendekat, barulah para santri menjawab serangan
mereka. Namun, dengan jumlah kekuatan lebih besar, ditambah peralatan lebih
lengkap, akhirnya pasukan Jepang berhasil menerobos dan memorak-porandakan pasukan Sukamanah. Peristiwa ini
dikenal dengan Pemberontakan Singaparna.
Belakangan, Kepala Erevele Belanda Ancol, Jakarta memberi kabar bahwa KH. Zaenal
Mustofa telah dieksekusi pada 25 Oktober 1944 dan dimakamkan di
Taman Pahlawan Belanda Ancol, Jakarta. Melalui penelusuran salah seorang santrinya,
Kolonel Syarif Hidayat, pada tahun 1973 keberadaan makamnya itu ditemukan di
daerah Ancol, Jakarta Utara, bersama makam-makam para santrinya yang berada di
antara makam-makam tentara Belanda. Lalu, pada 25 Agustus 1973, semua makam itu
dipindahkan keSukamanah, Tasikmalaya.
Saya
memilih tokoh ini karena tokoh ini tak hanya memperjuangkan Indonesia, namun
juga agama Islam.
Terimakasih
www.wikipedia.co.id

