Jumat, 18 Maret 2016

TRADISI SURAN

       Salah satu tradisi di Kebumen, tempat asal saya adalah Ruwahan. Tepatnya ini adalah tradisi di   
Dukuh Kuwarisan Kelurahan Panjer Kecamatan Kebumen. Tradisi ini, dilakukan pada bulan Muharam(Sura). Pada  bulan  Muharam, setiap kepala keluarga akan membuat ingkung sejumlah anggota keluarganya baik ynag tinggal di Kebumen maupun di luar kebumen. Ingkung adalah ayam yang dimasak utuh tanpa dipotong sedikitpun dan tak boleh disentuh sebelum Kaum (tetua agama) membacakan doa di masjid Banyumudal yang sudah ditentukan(sudah turun-temurun dilakukan di masjid tersebut. Biasanya, setipa warga akan membawa ingkung ke kantor kelurahan. Kemudian ingkung akan diarak menuju Masjid Banyumudal untuk didoakan. Barulah setelah itu ingkung bias dimakan. Kegiatan ini dipercaya sebagai upaya menolak bala  di awal tahun. Bagi orang yang percaya, mereka yakin bila tak melakukan upacara ini, keluarganya akan mengalami kesialan bertubi-tubi.

Itulah salah satu budaya yang masih ada di Kebumen. 

SUNAN GUNUNG JATI DAN FATAHILLAH


            Kali ini saya akan memaparkan mengenai siapakah Sunan Gunung Jati dan Fatahillah?
Banyak teks sejarah yang menyebutkan bahwa Fatahillah yang mempertahankan Pelabuhan Sunda Kelapa dari tangan Portugis itu adalah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati(menyamakan Fatahillah dengan Sunan Gunung Jati).
Kenyataannya, Fatahillah bukanlah Syarif Hidayatullah. Dikutip brilio.net dari buku Sunan Gunung Jati: Sekitar Komplek Makam dan Sekilas Riwayatnya karya Hasan Basyari, Rabu (24/6), Fatahillah atau juga disebut Faletehan dan Syarif Hidayatullah merupakan sosok yang berbeda.
Syarif Hidayatullah adalah putri Nyi Rara Santang atau Syarifah Muda'im, puteri Prabu Siliwangi yang menikah dengan Maulana Ishaq Syarif Abdillah, penguasa kota Isma'illiyah Saudi Arabia. Mereka mempunyai dua putera, Syarif Nurullah yang melanjutkan kedudukan ayahnya sebagai Amir (penguasa) dan Syarif Hidayatullah yang bersama ibunya kembali ke tanah Jawa sepeninggal Maulana Ishaq Syarif Abdillah.
Oleh Pangeran Cakrabuana yang menjadi penguasa Caruban, Syarif Hidayatullah diperkenankan tinggal di daerah pertamanan Gunung Sembung sambil mengajarkan agama Islam. Hingga akhirnya Pangeran Cakrabuana menikahkan Syarif Hidayatullah dengan putrinya, Nyi Ratu Pakungwati. Karena usianya yang sudah lanjut, Pangeran Cakrabuana tahun 1479 menyerahkan kekuasaan kepada Syarif Hidayatullah. Sejak saat itulah Islam melalui Syarif Hidayatullah mulai berkembang pesat.
Sedangkan Fatahillah yang biasa disebut Faletehan atau Kyai Fathullah adalah seorang ulama dari Pasai Aceh yang hijrah ke Demak. Ia kemudian diangkat Raden Patah sebagai panglima pasukan Demak yang berangkat ke Sunda Kelapa bersama pasukan Cirebon menghadapi Portugis untuk mempertahankan pelabuhan Sunda Kelapa.
Dalam buku Jejak Para Wali dan Ziarah Spiritual terbitan Kompas, disebutkan juga bahwa setelah wafatnya Sultan Trenggana, Ratu Ayu yang merupakan putri Syarif Hidayatullah menikah dengan Fatahillah. Jadi bisa dikatakan Fatahillah merupakan menantu dari Syarif Hidayatullah.
Bukti lainnya adalah makam Fatahillah yang terletak di kompleks makam Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati wafat tahun 1568, sedangkan Fatahillah wafat 2 tahun setelahnya.
Jadi jelas jika Fatahillah dan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati bukan sosok yang sama.

            Pada kesempatan ini, saya telah dibantu oleh www.brilio.net terimakasih banyak atas bantuan yang telah diberikan.