KAA adalah konferensi antara
negara-negara Asia dan Afrika,
yang kebanyakan baru saja memperoleh kemerdekaan. KAA diselenggarakan oleh Indonesia,
Myanmar (dahulu Burma),
Sri Lanka (dahulu Ceylon), India dan Pakistan dan
dikoordinasi oleh Menteri Luar Negeri Indonesia Sunario.
Pertemuan ini berlangsung antara 18 April-24 April 1955, di Gedung
Merdeka, Bandung,Indonesia dengan tujuan mempromosikan kerjasama ekonomi
dan kebudayaan Asia-Afrika dan melawan kolonialisme atauneokolonialisme Amerika
Serikat, Uni Soviet, atau negara imperialis lainnya.
Presiden RI Joko Widodo
(Jokowi) membuka Asian African Business Summit (AABS), Selasa (21/4/2015) di
Jakarta dengan membawa isu ekonomi dan kritikan pedas kepada organisasi
keuangan dunia bentukan negara bart seperti Bank Dunia, IMF dan ADB dalam
pembukaan KAA.
“Saatnya dunia usaha saling
meningkatkan kerja sama ekonomi, perdagangan dan termasuk investasi. Peran
dunia usaha juga menjadi sangat penting dalam mendorong semangat Dasasila
Bandung melalui Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia Afrika yang di
selenggarakan di Jakarta dan Bandung,” kata Presiden RI dalam sambutannya.
Konferensi tersebut menghasilkan
akan dibentuknya kelompok-kelompok kerja yang membahas masalah perekonomian di
negara-negara Asia dan Afrika. Namun kenyataannya kelompok tersebut tidak
berjalan. “Jadi nantinya AABS dibentuk untuk menampung masalah-masalah
perekonomian dan kelompok-kelompok kerja itu sebagai operasionalisasinya,”
jelasnya.
Poin penting dalam AABC ini meliputi
upaya memperkuat hubungan kerja sama perdagangan dan perindustrian, menghapus
hambatan bisnis karena masih kuatnya birokrasi, meningkatkan konektivitas,
kerja sama pembangunan infrastruktur, pengadaan pelatihan sumber daya manusia,
dan penguatan usaha kecil menengah (UKM). Negara-negara Asia-Afrika terus
membangun kemitraan untuk menghadapai persaingan ekonomi global dengan cara membuka
peluang kerja sama ekonomi dan bisnis.
Dalam bidang perdagangan, pemerintah
mengurangi hambatan perdagangan, mendorong fasilitasi perdagangan, dan
meningkatkan perdagangan jasa seperti pariwisata yang dapat meningkatkan
perdangangan langsung antara negara-negara Asia dan negara-negara Afrika. Asia
dan Afrika merupakan dua benua dengan pasar yang mewakili 75 persen penduduk di
dunia. Akumulasi PDB Asia Afrika mewakili 30 persen dari PDB dunia atau U$D 21
triliun. Negara-negara Asia dan Afrika juga banyak yang mewakili perekonomian
raksasa di dunia, seperti Tiongkok, Jepang, India, dan Indonesia.
Model perekonomian negara-negara
Asia Afrika kini makin terdiversifikasi dan tidak lagi bergantung pada ekspor
komoditas dan pertanian. Afrika mulanya memang mengandalkan ekspor dari sektor
pertambangan. Namun, kini juga makin besar kontribusi dari sektor-sektor lain,
seperti manufaktur, pariwisata, dan jasa.
Kekuatan ekonomi pasar Jepang,
sebagai salah satu anggota KAA dapat berkiprah dengan baik dalam pasar
internasional. Dalam memperkuat ekonominya, Jepang bukan hanya mengekspor
barang-barang produksi dalam jumlah yang besar, tetapi juga berupaya untuk
membangun kekuatan pembeli. Jepang mengajak pembelinya berpartisipasi dalam
produksi dan membantu pembangunan negara-negara yang masih terbelakang. Hal ini
dimaksudkan agar negara tersebut mampu membeli hasil produksinya. Dengan
demikian, dapat meningkatkan intensitas kerjasama antar negara dalam
bermaca-macam bidang usaha maupun kerjasama ekonomi, memunculkan adanya sistem
ekonomi global.
Namun, di sisi lain, masih banyak
Negara anggota KAA yang masih sulit bersaing dalam ekonomi global. Pertumbuhan
produk domestik bruto (PDB) Afrika Selatan melemah menjadi 1,3% pada kuartal
I/2015. Data yang diumumkan Badan Statistik Afrika Selatan menunjukkan
penurunan tajam dari pertumbuhan 4,1% pada kuartal IV/2014, saat negara itu
berupaya mengatasi krisis listrik dan tingkat pengangguran yang tinggi.
Industri manufaktur turun 2,4% dan pertanian terkena dampak kekeringan yang
parah.
Ketua Umum Kadin Indonesia, Suryo
Bambang Sulisto juga mengatakan bahwa ada beberapa hal yang harus dicapai
dengan diselenggarakannya Asian Africa Business Summit seperti dibidang
perdagangan dengan harapan bisa mendorong hubungan perdagangan antar negara
Asia dan Afrika serta mengurangi hambatan-hambatan baik berupa tarif maupun non
tarif antar semua negara dan juga meningkatkan perdagangan jasa seperti di
sektor pariwisata dan meningkatkan perdagangan langsung tanpa harus melalui
perantara.
Entri
kali ini, saya dibantu oleh:
http://www.portalindonesianews.com/
http://www.neraca.co.id/
http://m.galamedianews.com/


