Sabtu, 30 Januari 2016

KEMBALI

                Dalam belajar sejarah, salah satu hal yang harus kita lakukan adalah menghormati masa lalu. Kini saya akan membagi kisah yang membuat saya begitu terpukul.

                Dua hari sebelum bulan Ramadan tahun 2014. Itulah hari yang sangat berat bagi seluruh keluargsaya. Hari itu kakek saya meninggal dunia. Beliau memang sakit sejak seminggu yang lalu, sebenarnya sakit tua biasa, seperti batuk, masuk angin, dan pegal-linu. Saya beserta ayah, ibu,  kakak, dan adik saya juga sempat menjenguk beliau tiga hari sebelum kepergiannya. Di pagi hari tanggal 29 Sya’ban, saya pulang karena merasa kakek saya sudah cukup pulih.
                Kami tiba di rumah sekitar pukul 10.00 WIB. Tak disangka, setelah magrib, datang berita yang begitu mencengangkan. Kakek saya telah mangkat. Ayah saya bersegera pulang ke rumahnya. Karena hari sudah malam, ayah saya memutuskan untuk mengendarai sepeda motor dengan cepat. Ketika itu, diputuskan sayalah yang pergi menemani ayah saya. Sedang ibu, kakak, dan adik saya akan menyusul keesokan harinya.
                Malam itu, malam yang sangat gelap dan dingin, baik cuaca sebenarnya, maupun dalam hati saya dan keluarga. Mengingat begitu sulitnya kehilangan sosok ayah, kakek, dan saudara. Tetapi, keluarga kami merasa tenang dengan kepergiannya. Kami mengikhlaskannya. Beliau telah meninggalkan rokok satu tahun sebelum kepergiannya, dan telah menerima Islam tiga bulan sebelum kepergiannya.
                Mahasuci Allah yang menyayangi, melindungi, dan memberi hambanya hidayah sebelum kepergiannya.
                 Ini adalah kisah yang sangat aku sukai, dari semua yang ada, meski ini adalah sebuah kepergian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar