Dalam
belajar sejarah, salah satu hal yang harus kita lakukan adalah menghormati
masa lalu. Kini saya akan membagi kisah yang membuat saya begitu terpukul.
Dua hari sebelum bulan Ramadan tahun 2014. Itulah hari yang sangat berat bagi
seluruh keluargsaya. Hari itu kakek saya meninggal dunia. Beliau memang sakit
sejak seminggu yang lalu, sebenarnya sakit tua biasa, seperti batuk, masuk
angin, dan pegal-linu. Saya beserta ayah, ibu,
kakak, dan adik saya juga sempat menjenguk beliau tiga hari sebelum
kepergiannya. Di pagi hari tanggal 29 Sya’ban, saya pulang karena merasa kakek
saya sudah cukup pulih.
Kami
tiba di rumah sekitar pukul 10.00 WIB. Tak disangka, setelah magrib, datang berita
yang begitu mencengangkan. Kakek saya telah mangkat. Ayah saya bersegera pulang ke rumahnya.
Karena hari sudah malam, ayah saya memutuskan untuk mengendarai sepeda motor dengan cepat. Ketika itu, diputuskan sayalah yang pergi
menemani ayah saya. Sedang ibu, kakak, dan adik saya akan menyusul keesokan
harinya.
Malam itu, malam yang sangat
gelap dan dingin, baik cuaca sebenarnya, maupun dalam hati saya dan keluarga.
Mengingat begitu sulitnya kehilangan sosok ayah, kakek, dan saudara. Tetapi,
keluarga kami merasa tenang dengan kepergiannya. Kami mengikhlaskannya. Beliau
telah meninggalkan rokok satu tahun sebelum kepergiannya, dan telah menerima Islam tiga bulan sebelum kepergiannya.
Mahasuci Allah yang menyayangi,
melindungi, dan memberi hambanya hidayah sebelum kepergiannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar