Kamis, 24 November 2016

            
                 KAA adalah konferensi antara negara-negara Asia dan Afrika, yang kebanyakan baru saja memperoleh kemerdekaan. KAA diselenggarakan oleh Indonesia, Myanmar (dahulu Burma), Sri Lanka (dahulu Ceylon), India dan Pakistan dan dikoordinasi oleh Menteri Luar Negeri Indonesia Sunario. Pertemuan ini berlangsung antara 18 April-24 April 1955, di Gedung Merdeka, Bandung,Indonesia dengan tujuan mempromosikan kerjasama ekonomi dan kebudayaan Asia-Afrika dan melawan kolonialisme atauneokolonialisme Amerika Serikat, Uni Soviet, atau negara imperialis lainnya.           
            Presiden  RI Joko Widodo (Jokowi) membuka Asian African Business Summit (AABS), Selasa (21/4/2015) di Jakarta dengan membawa isu ekonomi dan kritikan pedas kepada organisasi keuangan dunia bentukan negara bart seperti Bank Dunia, IMF dan ADB dalam pembukaan KAA.
            “Saatnya dunia usaha saling meningkatkan kerja sama ekonomi, perdagangan dan termasuk investasi. Peran dunia usaha juga menjadi sangat penting dalam mendorong semangat Dasasila Bandung melalui Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia Afrika yang di selenggarakan di Jakarta dan Bandung,” kata Presiden RI dalam sambutannya.
            Konferensi tersebut menghasilkan akan dibentuknya kelompok-kelompok kerja yang membahas masalah perekonomian di negara-negara Asia dan Afrika. Namun kenyataannya kelompok tersebut tidak berjalan. “Jadi nantinya AABS dibentuk untuk menampung masalah-masalah perekonomian dan kelompok-kelompok kerja itu sebagai operasionalisasinya,” jelasnya.
            Poin penting dalam AABC ini meliputi upaya memperkuat hubungan kerja sama perdagangan dan perindustrian, menghapus hambatan bisnis karena masih kuatnya birokrasi, meningkatkan konektivitas, kerja sama pembangunan infrastruktur, pengadaan pelatihan sumber daya manusia, dan penguatan usaha kecil menengah (UKM). Negara-negara Asia-Afrika terus membangun kemitraan untuk menghadapai persaingan ekonomi global dengan cara membuka peluang kerja sama ekonomi dan bisnis.
            Dalam bidang perdagangan, pemerintah mengurangi hambatan perdagangan, mendorong fasilitasi perdagangan, dan meningkatkan perdagangan jasa seperti pariwisata yang dapat meningkatkan perdangangan langsung antara negara-negara Asia dan negara-negara Afrika. Asia dan Afrika merupakan dua benua dengan pasar yang mewakili 75 persen penduduk di dunia. Akumulasi PDB Asia Afrika mewakili 30 persen dari PDB dunia atau U$D 21 triliun. Negara-negara Asia dan Afrika juga banyak yang mewakili perekonomian raksasa di dunia, seperti Tiongkok, Jepang, India, dan Indonesia.
            Model perekonomian negara-negara Asia Afrika kini makin terdiversifikasi dan tidak lagi bergantung pada ekspor komoditas dan pertanian. Afrika mulanya memang mengandalkan ekspor dari sektor pertambangan. Namun, kini juga makin besar kontribusi dari sektor-sektor lain, seperti manufaktur, pariwisata, dan jasa.
            Kekuatan ekonomi pasar Jepang, sebagai salah satu anggota KAA dapat berkiprah dengan baik dalam pasar internasional. Dalam memperkuat ekonominya, Jepang bukan hanya mengekspor barang-barang produksi dalam jumlah yang besar, tetapi juga berupaya untuk membangun kekuatan pembeli. Jepang mengajak pembelinya berpartisipasi dalam produksi dan membantu pembangunan negara-negara yang masih terbelakang. Hal ini dimaksudkan agar negara tersebut mampu membeli hasil produksinya. Dengan demikian, dapat meningkatkan intensitas kerjasama antar negara dalam bermaca-macam bidang usaha maupun kerjasama ekonomi, memunculkan adanya sistem ekonomi global.
            Namun, di sisi lain, masih banyak Negara anggota KAA yang masih sulit bersaing dalam ekonomi global. Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Afrika Selatan melemah menjadi 1,3% pada kuartal I/2015. Data yang diumumkan Badan Statistik Afrika Selatan menunjukkan penurunan tajam dari pertumbuhan 4,1% pada kuartal IV/2014, saat negara itu berupaya mengatasi krisis listrik dan tingkat pengangguran yang tinggi. Industri manufaktur turun 2,4% dan pertanian terkena dampak kekeringan yang parah.
            Ketua Umum Kadin Indonesia, Suryo Bambang Sulisto juga mengatakan bahwa ada beberapa hal yang harus dicapai dengan diselenggarakannya Asian Africa Business Summit seperti dibidang perdagangan dengan harapan bisa mendorong hubungan perdagangan antar negara Asia dan Afrika serta mengurangi hambatan-hambatan baik berupa tarif maupun non tarif antar semua negara dan juga meningkatkan perdagangan jasa seperti di sektor pariwisata dan meningkatkan perdagangan langsung tanpa harus melalui perantara.

Entri kali ini, saya dibantu oleh:

http://www.portalindonesianews.com/
http://www.neraca.co.id/
http://m.galamedianews.com/







Tidak ada komentar:

Posting Komentar